PPNS Ajak Diaspora untuk Akselerasi Penelitian

Demi meningkatkan kualitas dan kuantitas penelitian, PPNS menggelar FGD bersama para Diaspora pada Kamis (16/08). Acara yang bertajuk FGD Learning from Diaspora: Strategy to Accelerate Research in PPNS yang akan membantu PPNS adalah Prof. Dr. Dani Harmanto (Derby University, UK) dan Prof. Nugroho Hermawan (Swinburne University of Technology Sarawak Campus).  Dalam SINTA-Ristekdikti, salah satu sistem aplikasi yang menjadi tolak ukur kinerja penelitian, saat ini PPNS berada di posisi ke-3 di bawah PENS dan Polimed. Para diaspora ini akan membantu dosen-dosen PPNS untuk dapat mampu mengakselerasi kuantitas artikel dan jurnal yang diterbitkan di jurnal internasional.

“Salah satu cara yang bisa digunakan adalah kita bisa memanfaatkan dan mengembangkan hasil penelitian mahasiswa. Kita dorong sehingga mereka juga mampu menghasilkan jurnal yang berkualitas dan mampu menembus jurnal internasional”, ungkap Dani Harmanto.

Dr. Anis Mustaghfirin selaku penanggung jawab bidang penelitian di PPNS juga siap untuk mencapai target-target jangka pendek yang telah disusun.

“PPNS punya sumber daya manusia yang mumpuni. Saya yakin kita bisa meningkatkan peringkat kita di SINTA. Tahun depan, kita harus naik minimal 1 peringkat,” ujar Anis.

Acara ini dihadiri oleh hampir 60 dosen yang terdiri dari penerima dana penelitian DIPA, Inovasi industri, Ketua Jurusan dan Koordinator Program Studi. Kepala Lab juga turut diundang, karena diharapkan lab atau bengkel menjadi penghasil penelitian.

Tingkatkan Angka Technopreneur di Indonesia, PPNS loloskan 2 Proposal Bisnis di PPBT

Jumlah wirausaha di sebuah negara ikut menentukan pertumbuhan ekonomi suatu negara. Dari total penduduk Indonesia, baru 3,1% yang merupakan wirausaha dan hanya 0.43% wirausaha berbasis teknologi. Masalahnya, seringkali start-up yang berasal dari perguruan tinggi

Salah satu upaya yang dilakukan pemerintah untuk menaikkan angka wirausaha berbasis teknologi adalah dengan menggelar Pogram Pengusaha Berbasis Teknologi (PPBT). Dimana program ini mengajak perguruan tinggi agar hasil inovasinya tak hanya sekedar riset yang berakhir di rak buku, melainkan menciptakan produk inovasi yang benar-benar siap dipasarkan di masyarakat. Melalui Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, PPNS berhasil meloloskan 2 proposal untuk nantinya dibimbing di inkubator bisnis agar sampai pada tahap komersialisasi.

Judul yang lolos adalah:

  1. Safe Walk Petruk Sepatu Rehabilitasi Stroke dengan Modalitas TENS (Dr. Am Maisaroh D, M.Kes)
  2. Kursi Roda Otomatis Berbasis Android (Didik Sukoco, ST., MT)

Dua tenant tersebut diundang untuk mengikuti pelatihan PPBT. Pelatihan tersebut dilaksanakan oleh Direktorat Perusahaan Pemula Berbasis Teknologi pada Direktorat Jenderal Penguatan Inovasi Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi selama 6 hari mulai Senin-Sabtu (9-14/2018) di Hotel Mercure Ancol, Jakarta.

Selain pelatihan juga dilakukan penandatanganan kontrak antara Pejabat Pembuat Komitmen Program PPBT dengan Inkubator. Penandatanganan kontrak secara simbolis dilaksanakan hari kedua pelatihan, disaksikan Menristekdikti Prof Dr H Mohamad Nasir PhD.

Direktur Jenderal Penguatan Inovasi Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) Jumain Appe dalam sambutannya menyampaikan, saat ini Indonesia tengah menghadapi tantangan industri yang semakin kompleks dan kompetitif. Dalam era Revolusi Industri 4.0 ini, inovasi teknologi dan sumber daya manusia (SDM) yang unggul adalah kunci utama menentukan daya saing bangsa.

Program PPBT nantinya akan membekali pendiri startup dengan pendanaan usaha, keterampilan dan pengetahuan yang dibutuhkan sehingga dapat meminimalisir kegagalan dan menjadi startup yang berkualitas. Harapan dari program PPBT 2018 ini adalah makin banyak technopreneur yang tercetak dari perguruan tinggi dan menyumbang kemajuan bangsa.

Dosen dan Mahasiswa PPNS Surabaya Bikin BuTO, Robot Pengganti Manusia

robotBUTOPPNSsyamsiar
image source : beritajatim.com

Diambil dari TRIBUNNEWS.COM, Perkembangan teknologi semakin cepat mendorong orang berlomba-lomba berinovasi menciptakan teknologi guna memudahkan kegiatan.Teknologi robot bahkan terus berkembang, berbagai ide pun tertuang dalam film.

Terinspirasi film inilah, Syamsiar Kautsar, S.ST, M.T (25) dosen program studi teknik otomasi Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya (PPNS) berinovasi mengembangkan robot pengganti manusia. Robot diberi nama BuTO (Buatan Teknik Otomasi) ini terinspirasi dari film aksi yang melibatkan robot sebagai pengganti manusia dalam beraktivitas.Selain itu terinspirasi hasil riset NASA akan robot yang ditempatkan pada pesawat ulang-alik.

“Terinspirasi film real steel dan riset NASA di pesawat ulang alik. Masih perlu penyempurnaan agar bisa digunakan dengan kendali jarak jauh,” ujarnya, Selasa (12/1/2016). Robot ini memiliki badan layaknya manusia, dibuat dari tubuh manequin, dengan tangan kanan yang bisa digerakkan hingga menggenggam.

Gerak tangan kanan robot ini, lanjut Syamsiar, menggunakan sensor kamera 3D.Pada bagian bawah dipasang roda penggerak dengan 4 penyangga. Pada bagian rongga tengah itu dipasang laptop sebagai pengendalinya.”Kami butuh sensor penggerak yang bisa membaca gerakan tangan. Sedangkan untuk menjalankan robotnya sudah kami program dengan joystik, jadi seperti main game, ada 2 laptop yang kami gunakan sebagai server dan penerimanya,” papar dia.

Sedang pada bagian wajah dan tangan kiri robot masih dibuat dari bahan patung, sehingga tidak bisa digerakkan.Syamsiar menyebut robot ini merupakan buatan tahap kedua yang dibuatnya bersama tiga mahasiswa binaannya. Di antaranya Muhammad Samsul Arifin Sidik (20) dan Muhammad Muzaqi Sholikin (20), mahasiswa semester 5 Teknik Otomasi PPNS dan Dimas Prakoso Dewa (23) yang baru menyelesaikan kuliahnya semester kemarin.

“Dua motor servo digital untuk menggerakkan robot perlu penyempurnaan. Jika agak lama harus diistirahatkan karena motor terlalu panas,” ujarnya.Menurut Syam, panggilan akrabnya, pembuatan robot ini perlu semester.Robot ini disebutnya murni inovasi rriset. Sehingga tidak memengaruhi nilai mahasiswanya.

Selanjutnya, robot yang menghabiskan Rp 35 juta ini akan dikembangkan agar bisa dimanfaatkan secara nyata.”Inginnya nanti bisa dikoneksikan ke internet, jadi saat orang berada di luar ruangan bisa digantikan perannya dalam rapat atau apa oleh robot,” tandas Syam.

Dia menambahkan pada robot ini akan tambahakan kamera untuk eksplorasi ruang yang bisa dimanfaatkan untuk memeriksa ruangan yang terindikasi ada bom.Sedang Samsul Arifin yang kini mengerjakan tugas akhir akan memanfaatkan robot riset bersama ini untuk bahan.

Kegemarannya pada robot sudah ia rasakan sejak semester 1, beragam robot standar perlombaan juga pernah ia buat.Sehingga robot inovasi pertama ini sangat menarik perhatiannya. “Kalau robot lain seperti robot laba-laba, robot soccer, robot pemadam api, dan line treasure sudah biasa buat sejak ikut UKM robot,”ujarnya.

Bantu Petani Lele, Mahasiswa PPNS Ajari Bangun Kincir Angin dan Keramba Apung

Pembuatan kincir angin
Mahasiswa Membantu Membuat Kincir Angin

Mahasiswa sebagai generasi muda memiliki tanggung jawab untuk ikut serta membangun dan memberi manfaat pada masyarakat. Melalui Program Hibah Bina Desa (PHBD) DIKTI, mahasiswa Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya (PPNS) ikut serta melakukan pengabdian masyarakat khususnya bagi petani lele di desa Gadukan, Kecamatan Morokrembangan Surabaya.

Tim yang diketuai M. Tekad Reza melihat beberapa persoalan budidaya ikan di daerah Morokrembangan. Seperti diketahui, Morokrembangan adalah daerah muara laut, sehingga air sungainya tercemah limbah kotor. Padahal, masyarakat di sekitar Morokrembangan, khususnya desa Gadukan, perekonomiannya ditunjang dengan budidaya ikan. Bisa dibayangkan, bahwa kualitas ikan yang dihasilkan kurang baik (secara kualitas) karena sungai tercemar limbah. Pada sisi kuantitas, jumlah lele yang dihasilkan juga masih angin-anginan, dan sering berkurang apabila terkena air pasang aliran laut. Hal tersebut dikarenakan penggunaan keramba tradisional dari bambu dan terpal.

pembuatan keramba apung
Pembuatan Keramba Apung
Risma ikut di launching instalasi
Proses Syukuran

Untuk memecahkan permasalahan tersebut, tim PHBD PPNS membuat sekaligus mengedukasi petani lele desa Gadukan untuk membuat kincir air dan juga keramba apung. Kincir angin berfungsi untuk filter air kotor, sehingga air dalam ‘kolam’ lele lebih bersih. Kincir air juga dapat menjadi generator listrik untuk penerangan di sekitar kolam. Jika sebelumnya petani lele menggunakan keramba dari bamboo, tim PHBD PPNS membantu untuk membuatkan keramba apung dari drum bekas. Keramba apung akan membantu apabila terdapat air pasang sehingga ikan tidak akan keluar dari keramba.

Jangan dibayangkan program ini dilakukan sepenuhnya oleh mahasiswa. Untuk proses mengedukasi dan memastikan bahwa teknologi sederhana ini akan dapat ditularkan dari satu petani ke petani yang lain, masyarakat turut dilibatkan dan melaksanakan secara mandiri pembuatan keramba apung dan kincir angin. Mahasiswa juga memiliki peran untuk tetap memantau dan membantu kesulitan yang muncul.

Program Hibah Bina Desa ini dinilai telah membantu menumbuhkan kepekaan dan kepedulian mahasiswa untuk dapat secara aktif dan nyata berkontribusi pada masyarakat sekitar. Salah satunya, Tekad dan kawan-kawan yang membuktikan bahwa kontribusi sekecil apapun akan berarti apabila bertujuan untuk peningkatan harkat hidup masyarakat. (nuh)

BuTo, Robot Lokal ala Real Steel yang Diproyeksi Menyerupai Robot NASA

657x328-buto-robot-lokal-ala-real-steel-yang-diproyeksi-menyerupai-robot-nasa-150801jSiapa sih yang tidak terkagum-kagum saat menonton film box office yang memperlihatkan adegan-adegan robot canggih? Nah buat kamu yang sempat terpikir bagaimana bila robot cangih itu bisa kita temui di Indonesia, mungkin sekarang kamu perlu berkenalan dengan BuTO.

BuTO adalah sebuah robot yang mirip sekali dengan manusia buatan Syamsiar Kautsar. “Idenya datang saat diskusi dengan dosen pembimbing thesis untuk membuat riset yang terinspirasi dari film Real Steel. Seperti yang kita tahu bahwa robot yang digunakan oleh pemeran utamanya kan dapat mengikuti gerakan tubuh manusia,” cerita Syamsiar pada brilio.net, Kamis (30/7).

Syamsiar menambahkan bahwa tema yang sebenarnya diangkat adalah bagaimana membuat sebuah lengan dan tangan tiruan yang dapat menirukan gerakan natural lengan dan tangan manusia. Dan dalam risetnya, pria berusia 24 tahun tersebut mengimplementasikan kecerdasan buatan untuk sistem pengendalian lengan si robot.

“Saya mengerjakan sendiri desain lengan, perancangan sirkuit elektronik, dan pemrogramannya. Tapi untuk bagian mekaniknya seperti kaki, tangan kiri, kepala, dibantu adik tingkat di jurusan Teknik Otomasi,” lanjut pria yang juga menjadi asisten dosen jurusan Teknik Otomasi Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya (PPNS) tersebut.

Sementara untuk rencana ke depan, ia akan menambahkan teknologi Internet of Think pada robotnya agar dapat dikendalikan dari jarak jauh layaknya proyek yang saat ini dikembangkan oleh NASA.

Nah dengan adanya BuTO ini Syamsiar berharap anak muda Indonesia bisa lebih percaya diri dengan kemampuan mereka, karena robot tidak melulu hanya bisa diproduksi oleh negara-negara asing seperti Jepang, tapi Indonesia juga mampu. (Brillio.net)