POLTEKIP Belajar Pengelolaan Politeknik ke PPNS

Politeknik Ilmu Pemasyarakatan (Poltekip), Kamis (19/04) mengunjungi PPNS. Kunjungan ini guna melaksanakan studi banding sistem pengelolaan dan penyelenggaraan pendidikan politeknik. Hadir dari Poltekip adalah Wadir I, Kaprodi, Kepala SPI, Kabag, Kasubag dan perwakilan dosen dan staf.
Sharing antara PPNS dan Poltekip ini mencakup banyak hal. Mulai dari perumusan standar kompetensi lulusan, tahapan akreditasi, bagaimana proses pengembangan penelitian, dan pengembangan politeknik secara umum. Direktur PPNS, Eko Julianto, menuturkan bahwa PPNS siap membantu Poltekip bila dibutuhkan. “Kalau bapak memerlukan pendamping atau konsultan, kami siap mengirimkan wakil kami kesana”, ungkapnya.
Sebagai politeknik kedinasan di bawah Kemenkumham, Poltekip merasa ‘baru’ di lingkungan Kemristekdikti.  “Meskipun secara usia kami sebenarnya sudah cukup lama, namun kami sangat baru sebagai politeknik di bawah Kemenristekdikti. Kami merasa perlu banyak belajar tentang pengelolaan politeknik kepada politeknik yang sudah berkembang dengan baik”, ungkap M. Akbar, Wakil Direktur I Poltekip.
Harapan dari pertemuan ini adalah saling memberikan manfaat dan memajukan politeknik di Indonesia. Politeknik sebagai salah satu tumpuan dalam rangka menciptakan sumber daya manusia yang unggul dan skilfull harus mampu berkembang sesuai tuntutan zaman.

Tingkatkan Angka Technopreneur di Indonesia, PPNS loloskan 2 Proposal Bisnis di PPBT

Jumlah wirausaha di sebuah negara ikut menentukan pertumbuhan ekonomi suatu negara. Dari total penduduk Indonesia, baru 3,1% yang merupakan wirausaha dan hanya 0.43% wirausaha berbasis teknologi. Masalahnya, seringkali start-up yang berasal dari perguruan tinggi

Salah satu upaya yang dilakukan pemerintah untuk menaikkan angka wirausaha berbasis teknologi adalah dengan menggelar Pogram Pengusaha Berbasis Teknologi (PPBT). Dimana program ini mengajak perguruan tinggi agar hasil inovasinya tak hanya sekedar riset yang berakhir di rak buku, melainkan menciptakan produk inovasi yang benar-benar siap dipasarkan di masyarakat. Melalui Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, PPNS berhasil meloloskan 2 proposal untuk nantinya dibimbing di inkubator bisnis agar sampai pada tahap komersialisasi.

Judul yang lolos adalah:

  1. Safe Walk Petruk Sepatu Rehabilitasi Stroke dengan Modalitas TENS (Dr. Am Maisaroh D, M.Kes)
  2. Kursi Roda Otomatis Berbasis Android (Didik Sukoco, ST., MT)

Dua tenant tersebut diundang untuk mengikuti pelatihan PPBT. Pelatihan tersebut dilaksanakan oleh Direktorat Perusahaan Pemula Berbasis Teknologi pada Direktorat Jenderal Penguatan Inovasi Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi selama 6 hari mulai Senin-Sabtu (9-14/2018) di Hotel Mercure Ancol, Jakarta.

Selain pelatihan juga dilakukan penandatanganan kontrak antara Pejabat Pembuat Komitmen Program PPBT dengan Inkubator. Penandatanganan kontrak secara simbolis dilaksanakan hari kedua pelatihan, disaksikan Menristekdikti Prof Dr H Mohamad Nasir PhD.

Direktur Jenderal Penguatan Inovasi Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) Jumain Appe dalam sambutannya menyampaikan, saat ini Indonesia tengah menghadapi tantangan industri yang semakin kompleks dan kompetitif. Dalam era Revolusi Industri 4.0 ini, inovasi teknologi dan sumber daya manusia (SDM) yang unggul adalah kunci utama menentukan daya saing bangsa.

Program PPBT nantinya akan membekali pendiri startup dengan pendanaan usaha, keterampilan dan pengetahuan yang dibutuhkan sehingga dapat meminimalisir kegagalan dan menjadi startup yang berkualitas. Harapan dari program PPBT 2018 ini adalah makin banyak technopreneur yang tercetak dari perguruan tinggi dan menyumbang kemajuan bangsa.

5 Prodi PPNS Kini Terakreditasi A

Terobosan baru dilakukan oleh PPNS dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan. Salah satu hal yang mampu menjadi tolak ukur adalah akreditasi nasional yang dikeluarkan oleh BAN-PT. Dari total 14 total program studi (termasuk 5 program studi yang baru berdiri), kini PPNS memiliki 5 Program Studi yang terakreditasi A. Program studi tersebut adalah:

1. D3 Teknik Bangunan Kapal

2.D4 Teknik Keselamatan dan Kesehatan Kerja

3. D4 Teknik Pengelasan

4. D4 Teknik Perpipaan

5. D3 Teknik Perancangan dan Konstruksi Kapal

Berikut adalah kriteria penilaian untuk akreditasi program studi :

  1. Identitas
  2. Izin penyelenggaraan program studi
  3. Kesesuaian penyelenggaraan program studi dengan peraturan perundang-udangan
  4. Relevansi penyelenggaraan program studi
  5. Sarana dan prasarana
  6. Efisiensi penyelenggaraan program studi
  7. Produktivitas program studi
  8. Mutu lulusan

Hasil baik ini diharapkan makin menginspirasi program studi lain untuk terus berkembang sehingga makin banyak program studi yang mendapatkan akreditasi A dari BAN PT.

Politeknik se-Indonesia Siapkan Soal-Soal UMPN

Mendekati pembukaan jalur UMPN, politeknik negeri se-Indonesia mulai mempersiapkan soal-soalnya. Kamis (22/03), perwakilan dari 40 politeknik negeri se-Indonesia mengirimkan wakilnya ke Surabaya untuk mulai membuat dan memperkirakan tingkat kesulitas soalnya. Tahun ini, PPNS mendapat jatah untuk menjadi penyelenggara workshop penyusunan dan Pengembangan Kualitas Soal Ujian Masuk Nasional Politeknik 2018 yang tahun ini diadakan di Hotel Dafam Surabaya.

Para calon mahasiswa baru bisa mulai mengakses website masing-masing politeknik untuk UMPN mulai tanggal 23 April – 25 April 2018. Untuk jenis tes di PPNS adalah tes rekayasa yakni Matematika, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, dan Fisika.

Di PPNS, UMPN bisa diikuti tak hanya calon mahasiswa yang berasal dari kelas 12 tapi juga peserta yang sudah lulus 1-2 tahun sebelumnya. UMPN adalah jalur ketiga dari empat jalur yang tersedia di Proses Penerimaan Mahasiswa Baru PPNS. Para calon mahasiswa diharapkan memanfaatkan kesempatan yang ada.

PPNS GELAR PELATIHAN BRANDING DAN JURNALISTIK DASAR

Menghadapai zaman digital yang menuntuk informasi yang actual dan muda diakses, institusi harus menyiapkan diri agar mampu bersaing. Selain meningkatkan kualitas pendidikan, institusi juga perlu meningkatkan citra institusinya agar namanya dikenal di masyarakat. Menjawab tantangan tersebut, Humas PPNS dan UKM Jurnalistik bekerjasama membuat pelatihan branding institusi dan jurnalistik dasar bagi civitas akademika PPNS.

Kamis, (15/03), 50 peserta pelatihan yang berasal dari perwakilan Jurusan, Program Studi, HIMA, BEM, UKM antusias menerima pelatihan yang baru pertama diadakan di PPNS.

“Banyak hal positif yang sudah dilakukan di PPNS, tetapi sayangnya jarang yang sampai ke publik hanya karena kita belum tahu cara yang benar dalam mengkomunikasikannya ke publik,” kata Adi Wirawan Husodo, Wakil Direktur PPNS saat membuka acara.

Pelatihan ini menghadirkan 3 narasumber yakni Sukemi, Zainal Arifin Emka, dan Son Andries, yang ketiganya memiliki rekam jejak di bidang jurnalistik dan komunikasi massa. Salah satu yang ditekankan oleh pembicara adalah memastikan bahwa informasi yang dikomunikasikan ke public adalah memang yang dibutuhkan oleh masyarakat.

“Institusi kadang kurang faham jenis berita atau informasi yang perlu dan tidak perlu dikomunikasikan ke masyarakat. Pelatihan ini nantinya akan mengajarkan bagaimana cara menulis agar informasi disampaikan dengan baik dan menarik,” ungkap Zainal.

Di era digital, dengan revolusi Internet dan media sosial, kemampuan jurnalistik semakin dibutuhkan untuk menyampaikan opini, menyampaikan laporan penelitian, menulis kemajuan sebuah program, atau berbagi kisah inspiratif secara lebih efektif.

Nurul Hidayati, Humas PPNS, menuturkan bahwa elemen-elemen di PPNS harus bersinergi agar dapat bersama-sama memajukan citra PPNS di masyarakat. “Oleh karena itu, kami mengundang perwakilan program studi, jurusan, HIMA, dan UKM. Mereka yang paling faham tentang unit masing-masing, dan peran mereka sangat besar untuk turut ‘membranding’ unit atau prodi masing-masing. Membuat kegiatan, mengemas acara sehingga menarik dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat,” ujarnya.

Pelatihan ini ditutup dengan tugas membuat news release kegiatan yang menarik dari masing-masing unit. “Meski latar belakang teknik, kita perlu belajar menulis. Karena menulis adalah salah satu cara terbaik untuk meninggalkan jejak digital tentang pemikiran kita,” ujar Sukemi.