SURABAYA – Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya (PPNS) terus memperkuat komitmennya sebagai kampus hijau yang berkelanjutan. Pada Senin (27/04/2026), Tim UI GreenMetric PPNS berkolaborasi dengan Dharma Wanita Persatuan (DWP) PPNS menggelar pelatihan inovatif bertajuk “Pengolahan Sampah Plastik Menjadi Aksesoris Bros”. Kegiatan yang berlangsung di lingkungan kampus ini melibatkan tim cleaning service PPNS sebagai peserta utama, yang kini diarahkan untuk menjadi motor penggerak ekonomi kreatif berbasis lingkungan.
Pelatihan ini bukan sekadar agenda seremonial, melainkan langkah lanjutan dari program edukasi lingkungan yang terintegrasi. Sebelumnya, tim cleaning service PPNS telah dibekali dengan keterampilan teknis mengenai manajemen pemilahan sampah di sumbernya. Namun, untuk benar-benar menyelesaikan tantangan limbah, pemilahan saja tidak cukup. Oleh karena itu, pelatihan ini hadir untuk memberikan solusi atas timbulan sampah botol plastik agar tidak berakhir begitu saja di Tempat Pembuangan Akhir (TPA).
Mendukung Ekosistem Ekonomi Sirkular
Melalui metode upcycling, sampah plastik yang semula dianggap tidak memiliki nilai kini bertransformasi menjadi produk aksesori estetis berupa bros. Secara substansial, kegiatan ini merupakan implementasi nyata dari konsep Ekonomi Sirkular. Dalam ekosistem ini, siklus hidup produk diperpanjang, limbah diminimalisir, dan sumber daya terus diputar kembali ke dalam sistem ekonomi.
Dengan mengubah sampah menjadi barang siap pakai, PPNS tidak hanya mengurangi beban timbulan sampah di area kampus, tetapi juga menciptakan rantai nilai baru. Hal ini sejalan dengan kategori pencapaian skor UI GreenMetric yang menuntut inovasi dalam pengelolaan limbah (Waste Management) yang berdampak luas.
Sentuhan Ekonomi Kreatif dan Pemberdayaan
Anggota DWP PPNS berperan penting sebagai mentor dalam sesi ini, membagikan teknik kerajinan tangan yang menggabungkan presisi teknis dan nilai seni. Di sinilah aspek Ekonomi Kreatif muncul; para peserta diajarkan untuk melihat sampah bukan sebagai masalah, melainkan sebagai bahan baku (resource) yang memiliki potensi komersial.
“Kami ingin menanamkan pola pikir bahwa tim kebersihan adalah bagian integral dari keberhasilan PPNS sebagai kampus hijau. Dengan keterampilan membuat bros ini, mereka kini memiliki peluang untuk meningkatkan kesejahteraan melalui unit ekonomi kreatif mandiri. Selain lingkungan menjadi bersih, ada nilai tambah ekonomi yang dihasilkan dari kreativitas mereka,” ujar salah satu pengurus DWP PPNS di sela-sela kegiatan.
Dampak Berkelanjutan
Antusiasme terlihat jelas saat para peserta berhasil merangkai potongan plastik menjadi bunga-bunga cantik yang elegan. Melalui kolaborasi ini, PPNS membuktikan bahwa tantangan lingkungan global dapat dijawab dengan tindakan lokal yang inklusif.
Ke depannya, hasil karya dari pelatihan ini diharapkan dapat menjadi salah satu merchandise khas kampus atau dipasarkan melalui pameran-pameran UMKM. Sinergi antara pemerintah kampus, organisasi Dharma Wanita Persatuan, dan tenaga kependidikan ini diharapkan menjadi katalisator bagi terciptanya ekosistem kampus yang tidak hanya asri, tetapi juga produktif dan adaptif terhadap tuntutan keberlanjutan masa depan.




